Berita
Imunostimulan-Vaksinasi jadi Solusi Baru Akuakultur Berkelanjutan
KlikBogor – Guru Besar Tetap Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof. Sri Nuryati, mengatakan bahwa Indonesia menghadapi tantangan besar dalam pengembangan akuakultur berkelanjutan seiring meningkatnya kebutuhan pangan global.
Ia menyebut, praktik good aquaculture practice (GAP) yang tidak optimal menjadi pemicu utama muncul dan menyebarnya penyakit di lapangan. Kondisi tersebut diperparah oleh perubahan iklim melalui peningkatan suhu dan fluktuasi kualitas air yang meningkatkan stres organisme serta virulensi patogen.
“Risiko infeksi menjadi semakin tinggi dan sulit dikendalikan. Dampaknya tidak hanya menurunkan kelangsungan hidup organisme budidaya, tetapi juga mengganggu stabilitas produksi, memicu kerugian ekonomi, serta berdampak pada rantai pasok termasuk pekerja sekunder seperti pedagang dan distributor,” kata Prof. Sri Nuryati saat pemaparan pra orasi ilmiah yang digelar secara virtual, Kamis, 23 April 2026.
Ia menambahkan, penggunaan antibiotik masih sering menjadi pilihan dalam pengendalian penyakit. Pendekatan ini menunjukkan keterbatasan akibat risiko resistensi antimikroba dan residu pada produk perikanan.
Sementara efektivitas jangka panjang menjadi semakin menurun, sehingga memperkuat urgensi peralihan menuju strategi pengendalian penyakit yang lebih berkelanjutan dan aman.
Ia mengatakan, pemanfaatan imunostimulan berkembang sebagai pendekatan untuk memperkuat daya tahan alami organisme budidaya. Dari berbagai hasil penelitian menunjukkan peningkatan ketahanan terhadap infeksi yang diikuti oleh meningkatnya tingkat kelangsungan hidup pada kondisi uji tantang.
Menurutnya, peran ini menjadi sangat penting pada udang yang mengandalkan sistem imun bawaan (innate immunity) dalam menghadapi patogen. Penguatan sistem imun tidak hanya menekan mortalitas, tetapi juga menjaga konsistensi performa budidaya secara keseluruhan.
Sedangkan vaksinasi berkembang sebagai pendekatan yang lebih spesifik dalam pengendalian penyakit, terutama pada ikan. Penerapan vaksin DNA pada infeksi KHV menunjukkan peningkatan kelangsungan hidup hingga 84,60% bahkan dapat mencapai 96,7%.
“Hasil tersebut menegaskan efektivitas tinggi dalam menekan mortalitas serta memberikan perlindungan yang lebih terarah,” kata Prof. Sri Nuryati.
Ia mengatakan, vaksinasi pada udang kini menjadi paradigma baru pegendalian penyakit. Vaksinasi yang sebelumnya dianggap tidak memungkinkan kini mulai menunjukkan potensi yang signifikan.
Udang diketahui memiliki mekanisme innate immune memory yang memungkinkan respons protektif yang lebih cepat terhadap paparan patogen berikutnya. Pendekatan vaksin, termasuk vaksin inaktif dan vaksin DNA, menunjukkan peluang dalam meningkatkan ketahanan terhadap infeksi.
“Prospek pengembangan vaksin udang semakin terbuka luas. Pendekatan vaksin berbasis DNA yang menargetkan gen virulensi utama serta strategi maternal immunity melalui vaksinasi induk memberikan peluang terbentuknya perlindungan yang lebih spesifik dan berkelanjutan,” katanya.
Transfer proteksi ke larva menjadi nilai tambah penting pada fase awal kehidupan yang rentan. Pengembangan metode aplikasi yang lebih praktis seperti melalui pakan atau perendaman juga membuka peluang adopsi yang lebih luas di tingkat industri.
“Potensi ini menempatkan vaksin udang sebagai salah satu inovasi kunci dalam pengendalian penyakit berbasis pencegahan di masa depan,” katanya.
Kendati demikian, Prof. Sri Nuryati menyebut, berbagai tantangan implementasi masih perlu diatasi, mulai dari aspek teknis, efektivitas di lapangan, hingga kesiapan adopsi oleh pelaku usaha. Integrasi antara inovasi teknologi, hasil penelitian, dan praktik budidaya yang baik menjadi faktor penentu keberhasilan.
“Penguatan sistem imun bukan lagi pilihan alternatif, melainkan kebutuhan utama dalam mendorong akuakultur yang lebih efisien, stabil, dan berkelanjutan,” pungkasnya.
(rls/hrs)