Berita

Guru Besar IPB Usulkan Ekologi Nutrisi: Membangun Efisiensi dan Keberlanjutan Akuakultur

Published

on

Guru Besar Tetap Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof. Julie Ekasari. Foto/Klikbogor

KlikBogor – Guru Besar Tetap Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof. Julie Ekasari mengatakan, saat ini akuakultur merupakan salah satu sektor produksi pangan yang pertumbuhannya paling pesat di dunia.

Laporan FAO 2026 menunjukkan bahwa produksi akuakultur global telah mencapai lebih dari 103 juta ton dan Indonesia merupakan produsen akuakultur terbesar ketiga di dunia.

Pencapaian ini menunjukkan bahwa akuakultur memiliki peran yang semakin penting dalam memenuhi kebutuhan protein masyarakat dunia. Namun, di balik keberhasilan tersebut terdapat tantangan besar yang sering luput dari perhatian.

“Dalam sistem budidaya intensif, hanya sekitar 20–40 persen nitrogen pakan yang benar-benar menjadi biomassa hasil panen. Sisanya berubah menjadi limbah yang dapat menurunkan kualitas air, meningkatkan risiko penyakit, serta memberi tekanan terhadap lingkungan perairan,” ujar Prof Julie saat pra orasi ilmiah secara virtual melalui zoom meeting, pada Kamis, 23 Juli 2026.

Ia menambahkan, persoalan ini juga berdampak pada aspek ekonomi. Pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam budidaya. Artinya, setiap nutrien yang hilang ke lingkungan sesungguhnya juga merupakan kerugian ekonomi bagi pembudidaya.

Baca juga: Disperumkim Pasang GPS dan Sensor BBM untuk Efisiensi Armada Operasional

Berangkat dari persoalan tersebut, ia mengusulkan konsep ekologi nutrisi. Konsep ini memandang pakan, organisme budidaya, komunitas mikroba, dan lingkungan sebagai satu sistem yang saling berinteraksi melalui aliran nutrien.

“Dengan memahami perjalanan nutrien di dalam sistem, kita dapat meningkatkan efisiensi produksi, memperbaiki kesehatan organisme, sekaligus mengurangi dampak lingkungan,” urai Prof Julie.

“Sebagian besar penelitian yang kami lakukan selama hampir dua puluh tahun menggunakan teknologi bioflok sebagai model penelitian, yang membantu kita memahami bagaimana nutrien dapat didaur ulang melalui aktivitas mikroorganisme, sehingga sebagian limbah dapat kembali dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi,” tambahnya.

Prof Julie menyebut, dari penelitian tersebut terdapat tiga pesan utama. Pertama, efisiensi budidaya sebaiknya tidak hanya diukur dengan Feed Conversion Ratio atau FCR, tetapi juga dengan kemampuan sistem mempertahankan nutrien.

Kedua, pengelolaan nutrien berperan penting terhadap kesehatan organisme melalui pengaruhnya terhadap mikrobioma, sistem imun, dan kualitas produk. Ketiga, pengelolaan nutrien merupakan fondasi bagi akuakultur yang lebih berkelanjutan.

Baca juga: Healing Forest Bisa Redakan Stres, Guru Besar IPB Beberkan Faktanya

Ia mengatakan, ke depan, konsep ini dapat dipadukan dengan pemodelan matematis, kecerdasan buatan, Internet of Things, dan teknologi digital untuk mendukung sistem budidaya yang lebih presisi dan berbasis data.

“Kami berharap konsep ekologi nutrisi tidak berhenti sebagai gagasan akademik, tetapi dapat menjadi dasar pengembangan teknologi, penyusunan kebijakan, dan praktik budidaya yang lebih efisien serta ramah lingkungan di Indonesia,” ujarnya.

Prof Julie menyakini bahwa masa depan akuakultur bukan hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan lebih banyak ikan, tetapi juga oleh kemampuan mengelola nutrien secara lebih bijaksana.

Ia juga berpesan, Indonesia adalah produsen akuakultur terbesar ketiga di dunia. Adapun tantangan berikutnya adalah meningkatkan efisiensi, bukan hanya produksi.

“Ekologi nutrisi merupakan kerangka komprehensif yang menghubungkan pakan, organisme, mikroorganisme, dan lingkungan untuk meningkatkan efisiensi, kesehatan, dan keberlanjutan akuakultur,” pesannya.

(rls/hrs)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Exit mobile version