Serba Serbi

Batuk dan Pilek “Membandel”, Dokter IPB Jelaskan Penyebabnya

Published

on

Ilustrasi batuk dan pilek. Dok. Pixabay/Mohamed_hassan

KlikBogor – Keluhan batuk, pilek, dan demam yang bertahan lebih lama dari biasanya banyak dirasakan masyarakat belakangan ini. Banyak yang menganggap flu yang menyerang kali ini lebih “membandel” dan membutuhkan waktu hingga berminggu-minggu untuk benar-benar pulih.

dr Wahyu Rachwaldy, dokter Klinik IPB University, menyampaikan bahwa kondisi ini bukan sekadar perasaan subjektif, melainkan fenomena medis yang dapat dijelaskan berdasarkan dinamika virus, kondisi lingkungan, dan respons imun tubuh.

“Laporan dari berbagai lembaga kesehatan global dan nasional, termasuk Centers for Disease Control and Prevention (CDC) serta Kementerian Kesehatan RI, mengonfirmasi adanya peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dengan gejala yang bertahan lebih lama (protracted viral symptoms),” jelas dr Wahyu dalam keterangannya dikutip Selasa, 6 Oktober 2026.

Ia menjelaskan, fenomena flu yang bertahan lebih lama dari biasanya ini disebabkan oleh beberapa faktor utama. Salah satunya adalah sirkulasi bersamaan (co–circulation) berbagai jenis virus respiratorik di masyarakat, mulai dari influenza A/B, respiratory syncytial virus (RSV), rhinovirus, adenovirus, hingga SARS-CoV-2.

Selain itu, terdapat pula fenomena post-pandemic immunity debt, yakni ketika perubahan pola paparan patogen selama beberapa tahun terakhir membuat sistem imun tubuh harus kembali menyesuaikan diri saat terpapar banyak virus secara beruntun.

Baca juga: Panen Raya di Katulampa, Pemkot Dukung Swasembada Pangan

Kenali Batas Normal

Menurut dr Wahyu, infeksi virus saluran pernapasan atas tanpa komplikasi umumnya memiliki pola perjalanan penyakit yang terukur. Pada masa akut, yakni hari pertama hingga ketiga, gejala mencapai puncaknya berupa demam, nyeri tenggorokan, hidung tersumbat, pegal-pegal, dan lemas.

Memasuki hari keempat hingga ketujuh, demam mulai mereda dan energi tubuh berangsur pulih, meski batuk dan sekresi hidung masih dapat bertahan.

“Pada akhirnya, orang dengan sistem imun sehat umumnya mengalami penyembuhan total dalam waktu tujuh hingga sepuluh hari, meskipun sisa gejala ringan seperti batuk kering wajar bertahan hingga dua minggu,” tambahnya.

Kendati demikian, lanjut dr Wahyu, flu atau ISPA bisa tergolong membandel atau tidak normal apabila gejala utama seperti demam, sesak, atau batuk berdahak kental berlangsung lebih dari 10 hingga 14 hari tanpa adanya perbaikan.

“Masyarakat juga perlu mewaspadai double sickening, yakni kondisi ketika sempat membaik selama satu hingga dua hari, kemudian kembali memburuk secara drastis dengan demam tinggi atau sesak nafas,” paparnya.

Adapun gejala lokal yang spesifik seperti nyeri hebat di area wajah atau dahi yang mengindikasikan sinusitis, serta nyeri telinga tajam hingga penurunan pendengaran, menjadi pertanda infeksi yang perlu perhatian khusus.

Menurut dr Wahyu, flu yang berlangsung lama tidak selalu disebabkan infeksi virus aktif. Kerusakan mukosa dapat memudahkan bakteri berkembang dan memicu infeksi sekunder seperti sinusitis bakterialis akut, bronkitis, atau pneumonia.

Peradangan persisten juga dapat menyebabkan batuk pascainfeksi. Kondisi tersebut membuat saluran napas menjadi sangat sensitif terhadap udara dingin, asap, maupun debu hingga memicu batuk kering selama tiga hingga delapan minggu.

“Faktor lain yang memperlambat pemulihan meliputi infeksi berulang akibat terinfeksi jenis virus berbeda tepat saat akan sembuh, serta tercetusnya reaksi alergi atau asma yang sebelumnya tersembunyi,” sebutnya.

Baca juga: Presiden Prabowo Hibahkan 160 Becak Listrik untuk Pengayuh Lansia di Kota Bogor

Lingkungan Turut Berpengaruh

Lebih lanjut, dr Wahyu menjelaskan bahwa perubahan cuaca ekstrem dan polusi udara dapat memperberat gejala serta memperlama penyembuhan.

Paparan PM2.5, NO₂, dan SO₂ dapat merusak silia serta membran epitel, sehingga mengganggu mekanisme alami tubuh dalam mengeluarkan dahak dan patogen.

“Polusi yang terus-menerus juga memicu peradangan kronis yang memperparah pembengkakan mukosa hidung dan tenggorokan. Ditambah lagi, kondisi udara dingin dan kering juga dapat menurunkan produksi mukus pelindung serta memperlambat respons imun lokal di area hidung,” tutur dr Wahyu menjelaskan.

Untuk itu, ia mengimbau agar masyarakat segera berkonsultasi ke tenaga medis jika flu tak kunjung membaik. Pertolongan medis sangat diperlukan apabila pasien mengalami sesak napas, napas terasa berat dan berbunyi, timbul nyeri dada hebat atau rasa tertekan saat bernapas, serta demam tinggi yang tidak kunjung turun lebih dari tiga hingga lima hari berturut-turut.

Tanda bahaya lainnya meliputi dahak berwarna hijau pekat, cokelat, atau bercampur darah, hingga terjadinya penurunan kesadaran, pusing berat, dan dehidrasi.

(rls/hrs)

2 Comments

  1. Pingback: Trase Baru Batutulis Segera Rampung, Tinggal 21 Persen

  2. Pingback: Komisi II Minta BKAD Kota Bogor Optimalkan Aset Idle

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Exit mobile version