Berita
Abu Vulkanik Anak Krakatau Capai Bogor, Warga Temukan Debu di Rumah
KlikBogor – Abu vulkanik yang diduga berasal dari erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda mencapai sejumlah wilayah di Bogor. Sejumlah warga mengaku menemukan material berupa debu di lingkungan rumah mereka.
Adhitya, warga Ciampea, Kabupaten Bogor, mengaku mengetahui keberadaan debu halus di lingkungan rumahnya sejak Minggu, 6 September 2026 dini hari. Material itu terlihat turun saat melewati sorot lampu senter.
“Sepertinya iya (abu vulkanik). Itu terpantau di rumah jam 00.10 WIB,” kata Adhitya.
Baca juga: Dedie Rachim Pastikan 56 Anak Korban Kebakaran Ponpes Ditangani Maksimal
Temuan serupa juga disampaikan Nopi, warga Cipaku, Kota Bogor. Ia baru menyadari adanya debu pada Minggu, 6 September 2026 pagi setelah melihat kondisi tanaman di sekitar rumahnya.
“Pagi baru tahu. Tanaman di rumah penuh debu, warnanya kecoklatan,” ujar Nopi.
Selain pada tanaman, debu juga menempel pada lantai dan kursi di rumahnya. Bahkan debu terlihat menyelimuti atap-atap rumah warga di sekitarnya.
Baca juga: Car Free Day Kota Bogor Kembali Digelar di Jalan Jenderal Sudirman
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan sejak 2 Juli 2026, status aktivitas Gunungapi Anak Krakatau berada pada level III (siaga). Seri erupsi tipe Strombolian yang menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik terus berlangsung hingga 5 September 2026.
“Pada tanggal 5 September 2026 pukul 23.07 WIB, Gunungapi Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang disertai dengan gemuruh. Sampai saat ini tanggal 5 September 2026, pukul 04.40 WIB masih berlangsung erupsi menerus dan masih terdengar gemuruh dari Pos PGA Krakatau Pasauran dari erupsi menerus GAK,” tulis Badan Geologi ESDM dalam situs resminya.
Baca juga: Gunung Malang dan Tugu Utara Tembus Top 15 Desa Wisata Terbaik Jawa Barat
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mendeteksi dua klaster sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Hal tersebut berdasarkan informasi PVMBG dan VAAC Darwin serta analisis citra RGB Himawari-9 pada 6 September 2026 pukul 09.00 WIB.
Klaster pertama, sebaran dari permukaan hingga ketinggian 20.000 kaki teramati ke arah timur laut-selatan, mencakup sebagian DK Jakarta, Banten, dan Jawa Barat serta perairan sekitarnya.
“Sementara itu, sebaran dari permukaan hingga ketinggian 50.000 ft teramati ke arah barat daya-barat laut, mencakup sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten,” tulis BMKG menambahkan dalam situs resminya.
(hrs)
Pingback: Antisipasi Abu Vulkanik, Warga Kota Bogor Diimbau Gunakan Masker